Jumat, 30 November 2012

PERANAN AKHLAK DALAM KEPRIBADIAN UMMAT


A.    Latar Belakang Masalah
Kecanggihan teknologi semakin hari semakin melaju pesat. Dalam zaman globalisasi seperti sekarang ini, tidak heran jika gerak laju ilmu pengetahuan semakin pesat. Berbagai informasi dapat dengan mudah kita akses. Jaman bergerak adalah sebutan yang tepat mengenai hal ini, karena arus informasi terus bergerak mengiringi laju perputaran bumi.

Melihat realita seperti itu, maka pendidikan seharusnya lebih serius menanggapi hal tersebut. Sejarah telah memperlihatkan bahwa pendidikan Islam tidak menolak Iptek karena pada prakteknya pendidikan Islam akan selalu bersentuhan dengan lingkungan sekitar. Dalam situasi seperti sekarang ini, dimana dekadensi moral terjadi di mana-mana, maka disamping penanganan yang berdasarkan logika, juga harus dilakukan penanganan secara arif yaitu dengan pendekatan norma etika, moral keagamaan dan akhlaqul karimah.
Akhlak merujuk kepada amalan, dan tingkah laku tulus yang tidak dibuat-buat yang menjadi kebiasaan. Menurut istilah Islam, akhlak ialah sikap keperibadian manusia terhadap Allah, manusia, diri sendiri dan makhluk lain, sesuai dengan suruhan dan larangan serta petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Ini berarti akhlak merujuk kepada seluruh perlakuan manusia baik berbentuk lahiriah maupun batiniah yang merangkumi aspek amal ibadat, percakapan, perbuatan, pergaulan, komunikasi, kasih sayang, dan sebagainya.
B.    Pengertian Akhlak Islami
Kata akhlak disadur dari bahasa Arab dengan kosakata al-Khulq yang berarti kejadian, budi pekerti dan tabiat dasar yang ada pada manusia. Pengertian akhlak secara etimologi berasal dari bahasa Arab jama' dari bentuk mufradnya "Khuluqun" (خُلُقٌ) yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan "khalkun"(الخلق)  yang berarti kejadian, serta erat hubungan "Khaliq"(الخالق)  yang berarti Pencipta dan "Makhluk" (المخلوق) yang berarti yang diciptakan.
Menurut Imam Al-Ghazali, akhlak adalah: “Suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu kepada pikiran dan pertimbangan. Jika sikap itu yang darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syara', maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika lahir darinya perbuatan tercela, maka sikap tersebut disebut akhlak yang buruk”.
Sedangkan menurut Ibnu Maskawaih yang ditulis kembali oleh Yusrina, akhlak adalah “keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih dahulu) lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan”.
Berdasarkan beberapa pengertian dari para ahli di atas dapat disimpulkan yang dimaksud dengan akhlak adalah sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang nampak dalam perbuatan. Jika dikaitkan dengan kata Islami, maka  akan berbentuk akhlak Islami, secara sederhana akhlak Islami diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran Islam atau akhlak yang bersifat Islami. Kata Islam yang berada di belakang kata akhlak dalam menempati posisi sifat. Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging dan sebagainya berdasarkan pada ajaran Islam.
C.   Sumber Akhlak Islam
Telah diketahui bahwa akhlak Islam merupakan sistem moral atau akhlak yang berdasarkan Islam, yakni bertitik tolak dari aqidah yang diwahyukan Allah kepada Nabi atau Rasul-Nya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya.
Akhlak Islam, karena merupakan sistem akhlak yang berdasarkan kepada kepercayaan kepada Tuhan, maka tentunya sesuai pula dengan dasar dari pada agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar atau sumber pokok dari akhlak adalah al-Qur'an dan al-Hadits yang merupakan sumber utama dari agama itu sendiri.
Pribadi Nabi Muhammad SAW. adalah contoh yang paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membentuk kepribadian. Begitu juga sahabat-sahabat beliau yang selalu berpedoman kepada al-Qur'an dan as-Sunah dalam kesehariannya.
D.       Bentuk-Bentuk Akhlak bagi Seorang Muslim
Akhlak Islam yang diharapkan terbentuk dalam diri seorang muslim merupakan akhlak Islam yang mendasari perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut H. A. Rahman Ritonga, akhlak dapat dibedakan menjadi:
Akhlak terhadap diri sendiri, meliputi:
a. Memelihara kesehatan diri dengan berolah raga.
b. Mengatur makan dan minum secara teratur.
c. Memelihara kesehatan hati dengan senantiasa berzikir kepada Allah.
2.    Akhlak anak terhadap orang tua, meliputi:
a. Berbicara dengan lemah lembut kepada orang tua.
b. Mengucapkan kata-kata yang mengangkat kehormatan orang tua.
c. Memelihara orang tua yang sudah memasuki masa lanjut usia.
d. Mendo’akan orang tua.
e. Melaksanakan nasihat-nasihat yang baik dari orang tua.
f. Menziarahi kubur orang tua yang sudah meninggal.
3.    Akhlak terhadap tetangga, meliputi:
a.    Tolong menolong antar sesama tetangga.
b.    Meminjamkan sesuatu yang dibutuhkan tetangga.
c.    Membantu tetangga dengan zakat dan shadaqah
d.    Menjenguk tetangga yang sakit.
e.    Saling memberikan nasihat dalam kebaikan dan kesabaran.
Sedangkan menurut H. Moh. Ardani, Akhlak al-Karimah atau akhlak yang mulia sangat banyak jumlahnya, namun dilihat dari segi hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia, akhlak yang mulia itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
Akhlak terhadap Allah SWT.
Akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji demikian Agung sifat itu, yang jangankan manusia, malaikatpun tidak akan menjangkau hakekatnya. Oleh karena itu sudah selazimnya kita melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, diantaranya :
a.    Mengerjakan shalat lima waktu dengan teratur.
b.    Mengaji secara tartil, dan sebagainya
2.    Akhlak terhadap Diri Sendiri
Akhlak yang baik terhadap diri sendiri dapat diartikan menghargai, menghormati, menyayangi dan menjaga diri sendiri dengan sebaik-baiknya, karena sadar bahwa dirinya itu sebagai ciptaan dan amanah Allah yang harus dipertanggung-jawabkan dengan sebaik-baiknya. Contohnya: menghindari minuman yang beralkohol, menjaga kesucian jiwa, hidup sederhana serta jujur, dan menghindarkan diri dari perbuatan yang tercela.
3.    Akhlak terhadap Sesama Manusia
Manusia adalah makhluk sosial yang kelanjutan eksistensinya secara fungsional dan optimal banyak bergantung pada orang lain, untuk itu ia perlu bekerjasama dan saling tolong-menolong dengan orang lain. Islam menganjurkan berakhlak yang baik kepada saudara, karena ia berjasa dalam ikut serta mendewasaan manusia, dan merupakan orang yang paling dekat dengan kita. Caranya dapat dilakukan dengan memuliakannya, memberikan bantuan, pertolongan, menjenguk tetangga yang sakit dan saling memberikan nasihat dalam kebaikan dan kesabaran.
Selanjutnya secara lebih khusus, Imam Al-Ghazali memberikan tuntunan cara berbakti kepada kedua orang tua sebagai berikut:
Selalu berkata-kata sopan kepada orang tua dan tidak menghardiknya.
Selalu taat kepada perintah orang tua asalkan tidak kemaksiatan kepada Allah.
Selalu bermuka ceria di depan orang tua.
Selalu bermusyawarah ketika ada permasaahan.
Bersegera jika orang tua memanggil.
Selalu mendo’akan mereka.
Tidak mendahului mereka pada saat makan dan minum bersama.
Tidak pergi tanpa seizin orang tua.
Memberikan hadiah sebagai ungkapan terima kasih kepada orang tua.
Jika merokok, jangan merokok dihadapan orang tua.
E.    Akhlak dan Etika Bekerja dalam Islam
☞ Bekerja Sebagai Satu Kewajiban Seorang Hamba Kepada Allah SWT.
1.    Allah SWT memerintahkan bekerja kepada setiap hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya :
    Artinya: “Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".(QS. At-Taubah/ 9 : 105)
Seorang insan minimal sekali diharuskan untuk dapat memberikan n`fkah kepada dirinya sendiri, dan juga kepada keluarganya.
Dalam Islam terdapat banyak sekali ibadah yang tidak mungkin dilakukan tanpa biaya & harta, seperti zakat, infak, shadaqah, wakaf, haji dan umrah. Sedangkan biaya/ harta tidak mungkin diperoleh tanpa proses kerja. Maka bekerja untuk memperoleh harta dalam rangka ibadah kepada Allah menjadi wajib. Kaidah fiqhiyah mengatakan :
مَالاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
    “Suatu kewajiban yang tidak bisa dilakukan melainkan dengan pelaksanaan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib.”
☞ Keutamaan (Fadhilah) Bekerja Dalam Islam
Orang yang ikhlas bekerja akan mendapatkan ampunan dosa dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:
مَنْ أَمْسَى كَالاًّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ (رواه الطبراني)
“Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah dilakukannya, maka ia dapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT.” (HR. Thabrani)
Akan diampuninya suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, zakat, haji & umrah. Dalam sebuah riwayat dikatakan :
إِنَّ مِنَ الذُّنُوْبِ لَذُنُوْبًا، لاَ تُكَفِّرُهَا الصَّلاةُ وَلاَ الصِّياَمُ وَلاَ الْحَجُ وَلاَ الْعُمْرَةُ، قَالَ وَمَا تُكَفِّرُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ الْهُمُوْمُ فِيْ طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ (رواه الطبراني)
“Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu, terdapat satu dosa yang tidak dapat dihapuskan dengan shalat, puasa, haji dan umrah.” Sahabat bertanya, “Apa yang dapat menghapuskannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Semangat dalam mencari rizki.” (HR. Thabrani)
Mendapatkan “Cinta Allah SWT”. Dalam sebuah riwayat digambarkan :
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ (رواه الطبراني)
Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu’min yang giat bekerja.” (HR. Thabrani)
Terhindar dari azab neraka
Dalam sebuah riwayat dikemukakan, “Pada suatu saat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad SAW. baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa'ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari. Rasulullah bertanya, 'Kenapa tanganmu?' Saad menjawab, 'Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku." Kemudian Rasulullah SAW mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, 'Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka.” (HR. Tabrani)
☞ Syarat Mendapatkan Surga Dengan Bekerja
Niat Ikhlas karena Allah SWT .
النية الخاصة لله تعالى
Artinya ketika bekerja, niatan utamanya adalah karena Allah SWT. sebagai kewajiban dari Allah yang harus dilakukan oleh setiap hamba. Dan konsekwensinya adalah ia selalu memulai aktivitas pekerjaannya dengan dzikir kepada Allah. Ketika berangkat dari rumah, lisannya basah dengan doa bismillahi tawakkaltu alallah.. la haula wala quwwata illa billah.. Dan ketika pulang ke rumahpun, kalimat tahmid menggema dalam dirinya yang keluar melalui lisannya.
2.    Itqan, sungguh-sungguh dan profesional dalam bekerja  ( الإتقان في العمل )
Syarat kedua agar pekerjaan dijadikan sarana mendapatkan surga dari Allah SWT adalah profesional, sungguh-sungguh dan tekun dalam bekerja. Diantara bentuknya adalah, tuntas melaksanakan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya, memiliki keahlian di bidangnya dan sebagainya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبراني)
    “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya.” (HR. Tabrani)
3.     Bersikap Jujur & Amanah ( الصدق والأمانة )
    Karena pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya tersebut merupakan amanah, baik secara duniawi dari atasannya atau pemilik usaha, maupun secara duniawi dari Allah SWT yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. Implementasi jujur dan amanah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, tidak curang, obyektif dalam menilai, dan sebagainya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ اْلأَمِيْنُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ (رواه الترمذي)
“Seorang pebisnis yang jujur lagi dapat dipercaya, (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada’.” (HR. Turmudzi)
4.     Menjaga Etika Sebagai Seorang Muslim (  التخلق بالأخلاق الإسلامية )
Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seroang muslim, seperti etika dalam berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, makan, minum, berhadapan dengan customer, rapat, dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu'min. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. bersabda :
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه الترمذي)
“Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Turmudzi)
5.     Tidak Melanggar Prinsip-Prinsip Syariah  (  مطبقا بالشريعة الإسلامية )
    Aspek lain dalam etika bekerja dalam Islam adalah tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang dilakukannya. Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi beberapa hal :
Pertama dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya, seperti memporduksi tidak boleh barang yang haram, menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi), mengandung unsur riba, maysir, gharar, dan sebagainya.
    Kedua dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan, seperti risywah, membuat fitnah dalam persaingan, tidak menutup aurat, ikhtilat antara laki-laki dengan perempuan, dan sebagainya.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلاَ تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, ta`atlah kepada Allah dan ta`atlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad, 47 : 33)
6.     Menghindari Syubhat  ( الإبتعاد عن الشبهات )
    Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Seperti unsur-unsur pemberian dari pihak luar, yang terdapat indikasi adanya satu kepentingan terntentu. Atau seperti bekerja sama dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzliman atau pelanggarannya terhadap syariah. Dan syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun eksternal.
Oleh karena itulah, kita diminta hati-hati dalam kesyubhatan ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, "Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan..." (HR. Muslim)
7.     Menjaga Ukhuwah Islamiyah  ( المراعاة بالأخوة الإسلامية )
Aspek lain yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. Jangan sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. Rasulullah SAW sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar tidak merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Beliau mengemukakan, "Dan janganlah kalian membeli barang yang sudah dibeli saudara kalian" Karena jika terjadi kontradiktif dari hadits di atas, tentu akan merenggangkan juga ukhuwah Islamiyah diantara mereka; saling curiga, su'udzan, dan sebagainya.
F.        Kesimpulan
Seorang muslim itu harus berakhlak baik. Karena kita sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah dan untuk menyembah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya: “Dan tidaklah Kami (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Dari uraian-uraian diatas dapat dipahami bahwa akhlak terhadap Allah SWT, manusia seharusnya selalu mengabdikan diri hanya kepada-Nya semata dengan penuh keikhlasan dan bersyukur kepada-Nya, sehingga ibadah yang dilakukan ditujukan untuk memperoleh keridhaan-Nya. Dalam melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah, terutama melaksanakan ibadah-ibadah pokok, seperti shalat, zakat, puasa, haji, haruslah menjaga kebersihan badan dan pakaian, lahir dan batin dengan penuh keikhlasan. Tentu yang tersebut bersumber kepada al-Qur'an yang harus dipelajari dan dipelihara kemurnianya dan pelestarianya oleh umat Islam.

والله اعلم بالصواب والحمد لله رب العالمين

0 komentar:

Poskan Komentar