Minggu, 25 November 2012

GRASI PRESIDEN UNTUK OLA


Apa yang disampaikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang grasi kepada terpidana narkoba Meirika Franola alias Ola sudah sangat jelas dan transparan. SBY mengatakan bertanggung jawab atas putusan itu, tanpa menyalahkan siapa saja, dan itulah sikap ksatria seorang pengambil keputusan.

Bila disimak benar, jelas disana jiwa pertimbangan kemanusiaan sangat tampak melatari keputusan SBY atas laporan bahwa Ola bukan tergolong bandar dan termasuk kurir. Itulah yang mendasari keputusan pemberian grasi terhadapnya. Namun bukan berarti Ola bebas. Ola akan mati juga di penjara karena masih harus menjalani penjara seumur hidup.
Esensi penting menurut saya, bukan saja hidup dan mati adalah masalah spiritual antara manusia dan Tuhan, namun sesuai namanya “Lembaga Pemasyarakatan” sebenarnya bertugas mengusahakan terpidana sadar atas kesalahannya. Banyak contoh, termasuk di Indonesia, mantan penjahat sadar dan menjadi warga yang baik. Mantan preman yang mungkin membuat orang terbunuh bisa menjadi ulama. Mantan pecandu narkoba yang menjadi tokoh anti narkoba.
Namun bila telah mendapat pengampunan untuk menjadi sadar, tetapi masih melakukan kejahatan kembali, termasuk Ola, semua harus dibuktikan secara hukum, dan secepatnya seperti permintaan SBY.
Tentang Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahmud MD yang menyitir seolah ada mafia urusan pembebasan terpidana narkoba di Istana, saya menyayangkannya. Saya berkawan dengan Mahmud, walau umurnya lebih muda dari saya. Orangnya Jawa Timuran seperti saya. Suka bercanda atau cengengesan seperti saya juga. Seperti saat alm GusDur mengatakan bahwa maksudnya Machfud mau jadi Menteri Pertanahan, tapi kepleset jadi Menteri Pertahanan, dan sebagainya.
Namun men-cengengeskan seolah di Istana ada mafia seperti yang disebutkannya, adalah hal yang gegabah dan semoga hanya khilaf kata. Saya menyayangkan bukan saja dia adalah seorang ahli hukum, Ketua lembaga prestisius MK, namun juga digadang-gadang pendukungnya untuk jadi salah satu calon pemimpin negeri ini

Boleh saja Mahfud mengatakan dengan santai bahwa hal itu hanya analisanya saja. Namun bukankah dirinya adalah pejabat tinggi dan public figure? Saat-saat ini kita perlu tokoh-tokoh yang sejuk. Kalau negeri ini selalu diisi kegemparan gemuruh panas berbagai analisa tak berfakta, sungguh kasihan rakyat yang hanya bisa menjadi penonton yang sedih dan merana.
Sekali lagi sikap SBY tentangg Ola jelas, dan bertanggungjawab. Sekali lagi pula, menurut saya, dasar kemanusiaan, hidup mati di tangan Tuhan, adalah dasar pertimbangan utama SBY. Saya pribadi ikut dalam kelompok yang berharap, suatu saat, hukuman mati ditiadakan. Seperti pula banyak masyarakat yang mengharapkan pemerintah untuk berupaya keras membebaskan saudara kita yg menjadi terpidana mati diluar negeri.
SUMBER : http://setkab.go.id/ 

0 komentar:

Posting Komentar